My Digital Diary: Cerpen Jepang: Roh atau Magic? (Chapter 1)

Rabu, 16 Januari 2013

0

Cerpen Jepang: Roh atau Magic? (Chapter 1)


Title: Roh atau Magic?
Author: Rita Diana

Genre: Mistery,, Detektif,, Romance (?)

H
A
P
P
Y

R
E
A
D
I
N
G

Guys..! :)







Dibawah sinar bulan yg menghempaskan sinarnya pada bunga-bunga awal musim semi yang berderet di etalase toko bunga.. Ada bunga fresia,, sumire,, sakura dan lain-lain..

Ingin rasanya aku berlama-lama menatap bunga-bunga itu,, tapi aku harus segera pulang ke rumah agar ayah dan ibu ku tidak berlama-lama menunggu ku untuk bisa makan malan bersama..

Ditengah perjalanan yang semakin gelap,, aku melewati sebuah kuil,, tepat pada halamannya terdapat pohon bunga sakura yang tengah berkembang,, seperti menutupiku untuk bisa melihat kuil keseluruhan..
Bunga sakura itu tampak menyeramkan.. Seperti hantu putih bersembunyi dalam gelap,, memandangku seakan sedang mendiskusikan sesuatu,, berbisik-bisik..
Aku tak tau bahwa bunga sakura yang cantik itu bisa tampak menyeramkan seperti ini..

Aku terus menatap dan menghampiri pohon itu seakan menantang dan menyatakan bahwa 'aku tidak takut sama sekali!'

Ada seseorang datang..
Ia datang mendekat dari arah berlawanan..
Ditengah bunga sakura yang berguguran,, langkah kakinya tak terdengar..
Dg sinar yang tak mendukung tetap ku tebak,, ia seorang gadis,, menggunakan gaun lembut berwarna putih,, warna yg terlihat menyatu dg bunga-bunga itu..
Tapi mau apa disini? Larut malam begini bukan waktunya untuk melihat sakura..

Tak kupungkiri bahwa aku sedikit takut,, terlebih lagi ia bertelanjang kaki.. Dan terkejut saat posisi matanya terlihat jelas ia tak melihat kearah manapun walau matanya terbuka lebar..
Hanya mata yg terbuka mengarah ke langit dg pandangan kosong..

Wajah pucat,, tangan putih dan berambut panjang..
Bibirnya terbuka separuh,, memperlihatkan gigi yang putih..
Apa ia tak melihatku? Ya! Dia tak melihatku..
Aku rasa ia berjalan tanpa tujuan,, seperti dalam tidur..
Mungkin ia sedang tidur berjalan..

Aku bengong melihatnya menjauh.. Saat menyadari sesuatu,, punggungku merinding.. Ia berjalan ke arah jurang di samping kuil.. Gawat! Gawat!

"Tunggu! Berhenti!" aku berteriak..

Terlambat! Ia menghilang dari pandanganku.. Aku menjerit mendekati tangga disamping jurang yang tak terlalu dalam itu.. Gadis itu telah tergeletak..

"Bertahanlah!" aku lupa diri dan berlari turun ke arahnya..
Aku mencoba memeriksa tangannya.. Tidak ada darah!
Jari putihnya lentik dan punggung tangannya ada bercak kecil seperti kelopak bunga sakura,, "bertahanlah!" sekali lagi aku berkata lantang,, mengguncang-guncang badannya..

"Eng....ng..",, samar-samar terdengar erangan.. Rambutnya jatuh tergerai mengenai wajahnya yang mengekspresikan penderitaan..

Wah cantik.. Memang bukan waktunya,, tapi kebiasaan burukku bila bertemu seseorang untuk pertama kali adalah mengamati secara keseluruhan,, lalu mengumpamakannya dg binatang..
Umurnya sekitar enambelas tahun.. Kalau diumpamakan binatang,, dia mirip Bambi si rusa kecil yang lucu..

Begitu membuka mata,, ia melihat keseliling..

"Aku....dimana aku,, ini? Dimana ini? Ka.....kau siapa?"

"Rumahku di sekitar ini.. Disini kuil Kumano di jalan Midori.."

"Kuil Kumano? Mengapa aku kemari....??"

"Kau berjalan terhuyung-huyung kemari,, lalu terjatuh disini.."

"Kau yang menolongku?"

"Eng....tapi pertolonganku terlambat.. Aku tak bisa menghentikan kau jatuh terguling sampai sini.."

"Tidak.. Aku merasa seperti mendengar suaramu.. 'Berhenti' benarkan?"

"Benar sih,, tapi...."

"Kau telah menolongku,, arigato..."

"Untunglah kau tidak ada luka.. Bisa berdiri? Pegang pundakku.."

"Aku baik-baik saja.."

Gadis itu berdiri dg mememegang pundakku dg agak terhuyung-huyung..

"Tak apa,, aku bisa pulang sendiri.. Rumahku tidak jauh dari sini.. Maaf mengaggetkanmu.. Akhir-akhir ini aku sering di panggil ketika tak sadarkan diri.."

"Apa?"

"Malam ini pun aku dipanggil lagi.. Selamat tinggal.. Oya,, siapa namamu? Namaku Arisawa Kuramochi.."

"Namaku Kaori Kozuki.."

"Kaori,, nama yg cantik.. Secantik orangnya.."

"Hihihi.. Tidak juga.." aku menggaruk kepala yg sama sekali tidak gatal itu..

"Selamat tinggal.. Pulangnya hati-hati ya.." katanya..

Begitu membalikkan tubuh hendak pulang..
Terdengar suara langkah kaki keras.. Tiga orang lelaki bertubuh tegap mengelilingi Arisa..

"Arisa.." paman yang berdiri ditengah dan yang paling berwibawa itu mendekati Arisa dan memeluknya..

"Ayah,, maph.. Aku dipanggil lagi.."

"Sudahlah,, tidak apa-apa.. Ayah disini! Tidak apa-apa"

Sepertinya kedua lelaki lainnya adalah bawahan ayah Arisa.. Mereka memanggil Arisa dg sebutan 'nona' dan memanggil ayahnya dg 'Pak Direktur'..

Sesampai di rumah,, terlihat ayah-ibu tengah menunggu terduduk tepat di meja makan..
Langsung ku hampiri mereka dan meminta maph krn telat pulang untuk makan malam bersama..

Ditengah-tengah aku menyantap makanan ini,, "dipanggil lagi",, maksud kata-kata Arisa itu apa?
Apakah ia dipanggil oleh roh yang tak terlihat mata?





To be continue..

0 komentar:

Posting Komentar