Orang yang
memiliki otak pintar banyak, tapi yang mampu bekerja dibawah tekanan sedikit.
Hari ini
kerja puncaknya stress, pusing, mumet, emosi, kesel, sedih, nano nano!
Kerja
dibawah tekanan itu ga enak, rasanya emang lebih baik punya usaha sendiri dibanding
kerja dibawah orang.
Saya
bekerja sebagai marketing staff di sebuah kontraktor busana yang produknya
khusus hanya di ekspor ke buyer-buyer yang memiliki brand ternama di dunia.
Semua
atasan saya adalah orang asing, ini pertama kalinya saya bekerja dengan
orang asing, mereka sangat baik meskipun saya bekerja penuh dengan tekanan.
Mungkin karena obsesi besar terhadap kesuksesan pekerjaannya yang
berujung dengan menekan bawahannya. Fyuh!
Seperti hari ini, tentang tekanan yang saya alami hari
ini.
Hari ini
atasan saya menghampiri dan meminta untuk membuka PO hari ini juga
khusus untuk satu garment priority, sebut saja lace.
Mr. X: “mba
Diana, I want you to open PO for Lace garment, because that garment must
inhouse immediately. It’s priority.”
Sambil
dengerin - sambil mengkerut - sambil ngedumel dalem hati, ‘gimana mau open PO,
material actual request aja belum rampung dikasih ke dept Sample, memo create
articlenya aja belum dapet approval nya dari atasan tim Stage. Nih atasan
pura-pura polos apa emang polos beneran.’
Saya: “But
sir, Stage team has not yet received approval from their boss, for create this
article.”
Mr. X: “But
this is command from our manager!”
Bla bla bla cekcok pun tak terhindarkan. Kebiasaan buruk atasan saya adalah selalu
mengatas-namakan manajer, bikin jiper!
Semua
pekerjaan saya yang lain terpending cuman buat ngurusin ini.
Saya harus
muter otak gimana caranya tim Stage cepet-cepet create article untuk satu
garment ini, akhirnya mau tidak mau saya mencoba untuk mempush tim Stage dan
atasan mereka tentunya agar bersedia untuk mendahulukan article garment ini.
Saya harus bolak-balik ruangan saya ke ruangan tim Stage, padahal lagi
puasa! Tapi justru karena lagi puasa jadi harus lebih sabar.
Disatu sisi
saya harus menyelesaikan material request disisi lain saya harus sibuk adu mulu
dg tim stage, kadang di telpon kadang saya samperin langsung diruangannya agar
mereka segera menyelesaikan pekerjaannya.
Atasan saya
hanya sibuk “Have you finished your work?”
Saya cuman
teriak “belooooom!” Errrggggh mau pretelin keyboard rasanya.
Satu jam
menjelang pulang tim Stage masih belum me-create article nya, saya malah dapat e-mail bahwa saya harus mengirim quotation dari supplier karena
quotation yang saya lampirkan tidak lengkap.
O my God,
kenapa baru sekarang di informasikan! Memangnya setelah saya kirim email ke
suuplier mereka tidak membutuhkan waktu untuk find the attachment? Belum lagi
apa mungkin si supplier akan segera membaca email yang saya kirim? Waktu satu
jam tidak mungkin cukup.
Atasan saya
lagi-lagi berteriak,, “mba Diana,, how about Lace?!”
Mau meledak
nih kepala, mau resign aja rasanya, jadi pengamen jalanan kayaknya lebih
tentram hidupnya.
Dan
teeeeng.. It’s time to go home!
Tapi boss saya mencegah saya, “You can’t go home before you finish your work”
"sorry sir, but I wanna go home now. I’ll finish it tomorrow”
Padahal besok kan libur ada pemilihan capres-cawapres.
Padahal besok kan libur ada pemilihan capres-cawapres.
Kirain nih
atasan mau ngerti ternyata masih ngelarang, “can you show me quotation for
others article.”
Bisa
aja de ngerjain saya biar ga pulang ontime.
Akhirnya
saya harus lembur (terpaksa).
Beginilah
dukanya kerja dg orang asing.
Penuh
tekanan dan harus serba cepat.
Tapi
disamping tugas-tugas kerja yang numpuk, mereka semua sangat baik.
Salah satu
yang membuat saya bertahan.




0 komentar:
Posting Komentar